Duka yang Menyayat di Kampus Biru. 29/Mei/2025.di Langsir Berto.Sabdopalon

sabdopalon.news.-Sleman-Jateng.-
Kadang hidup ini memang tak adil. ucap cak mat kepada media secara tertulis. Di kampus yang sama, di tanah yang sama, dua (02) manusia diuji dengan cara yang paling getir. Argo Ericko Achfandi, mahasiswa Fakultas Hukum UGM angkatan 2024, harus meregang nyawa setelah ditabrak BMW yang dikendarai sesama mahasiswa UGM.
—Christiano Pangarapenta dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis kelas Internasional. Dua dunia yang bertabrakan: satu dari bawah, satu dari langit.
Argo, anak yatim sejak usia Tujuh (07) tahun. Ayahnya pergi terlalu dini,
meninggalkan dia sebagai tumpuan harapan seorang ibu. Ia tumbuh dengan beasiswa Bank Syariah Indonesia, penghafal Al-Quran, dan berjalan di jalan lurus.
Sementara Christiano, menurut kabar, adalah putra direktur perusahaan pembiayaan ternama dan petinggi HIPMI Pusat.
Sebagai orang tua yang anaknya juga kuliah di UGM, hati ini teriris.
Di kampus bergengsi ini, di mana anak-anak petani dan konglomerat duduk di ruang kuliah yang sama,
Ada jurang yang tak terjembatani. Tapi siapa sangka jurang itu harus memakan korban. Ucapnya.
Malam itu, di depan patung Dewi Keadilan yang dingin, puluhan mahasiswa berkumpul.
Doa-doa dibacakan, bunga-bunga ditabur. Ketua Dema Justicia FH UGM, Radea Basukarna, bicara tentang solidaritas.
Tapi yang paling menyentuh justru sambutan ibu Argo. “Ayahnya pergi saat Argo Tujuh (07) tahun…
Dia ingin jadi pengganti ayahnya,” ujarnya. Suaranya bergetar, tapi tak ada air mata.
Mungkin air matanya sudah kering sepuluh tahun lalu.
Seorang orang tua mahasiswa yang hadir berbisik, “Sedih, bangga, haru… campur jadi satu.
Aura Argo terasa sekali—khidmat, tulus.” Tapi di balik itu, ada pertanyaan menggumpal:
akankah keadilan benar-benar buta? Atau ia masih silau oleh lampu BMW dan nama besar.tegasnya.
ALLAh punya rencana. Kata-kata itu sering jadi pelipur. Tapi bagi seorang ibu yang kehilangan anak semata wayang,
kata-kata itu terdengar seperti pisau. “Argo dipanggil bertemu ayahnya di surga,” katanya. Ya, surga mungkin
lebih adil. Tapi dunia? Di sini, kita masih harus berjuang.
UGM harus malu. Bukan hanya karena ada mahasiswanya yang ugal-ugalan di jalanan,
tapi karena membiarkan ketimpangan ini tumbuh subur.di Kampus ini.
Kampus ini didirikan untuk melahirkan pemimpin, bukan penindas.
Malam itu, di bawah patung Dewi Keadilan, saya membayangkan Argo kecil.
Yang tak pernah tahu BMW, tapi hafal 30 juz. Yang tak punya ayah, tapi punya ALLAH. tegasnya.
Selamat jalan, Argo. Semoga kau dan ayahmu tersenyum di sana.
Dan untuk kita yang masih di sini: jangan biarkan hanya jadi hashtag. pungkasnya.
(Berto.sabdopalon.)
Editor,(Luwadi )
